Manusia dilahirkan di dunia dengan nama yang melekat
seumur hidupnya. Nama itulah yang membedakan antara yang satu denga yang lain,
walau kadang ada yang namanya sama, kesamaan itu biasanya terdapat pada
sapaanya tapi bukan dinama lengkapnya.
Ada
suatu keunikan dalam sapaan di kelas kami, Nur Sulikhin atau sering di panggil
cak cing, Solikin atau dipanggil Gandol yang berarti bergelantungan, Batomi
atau Toler julukan ini diberikan karena Batomi bertubuh tinggi yang hampir 2
meter, panjangnya diisyaratkan seperti layaknya ikan Toler yang panjang, Budi
atau Gonggo anak ini berkepala agak besar sehingga sering disamakan dengan
hewan yang bernama Gonggo, hewan berkepala besar berkaki seribu yang apabila
disentuh akan melingkar seperti hewan Tergiling, Dwi atau pendek sapaan ini
diberikan karena dia memang bertubuh pendek, Nur Udin yang sering disapa Brodin,
sebutan ini diberikan karena dia hobi banget dengan lagu dangdut dan namanyapun
hampir mirip dengan Brodin, Muhlisin anak baru yang masuk ini sering disapa
dengan sebutan Blawus, yang berarti tidak pernah mandi sebutan ini diberikan
karena anaknya yang berkulit hitam jadi beberapa kalipun mandi ya tetap seperti
itu anaknya, tapi kadang dia juga jarang mandi jika berangkat sekolah, Bayu
atau si Blonceng, kepalanya yang agak lonjong yang mirip dengan buah Blonceng
lah yang membuat dia mendapatkan gelar itu. Semetara aku teman – teman sering
memanggilku Cumpon yang berarti sedikit.
Begini
awal mula ceritanya, ini semua terjadi gara – gara kelereng dan temanku si
Gandol, tepatnya di Balai Desa Banjarjo, sepulang sekolah, sehabis makan siang
aku membuka lemariku, bukan untuk mengambil pakaian atau sepatuku tapi untuk
mengambil kelerengku, permainan ini biasa aku lakukan sepulang sekolah bersama
teman – temanku. Aku keluar rumah berlari menuju Balai Desa, di Balai Desa
Gandol dan teman – teman sudah menunggu.
“Ayo main”
kataku
“Lama
sekali kau” sahut salah satu temanku
“Maaf”
jawabku lagi
Permainan
dimulai, aku melihat kelereng yang dibawa teman – temanku banyak sekali ada
yang membawa satu botol Aqua, ada juga yang membawa 20 butir. Sementara aku
cuma membawa 5 butir, sudah begitu setiap aku kalah dengan teman akrabku
seperti Gandol dan disuruh bayar kadang aku minta bonus.
“Hai Nur
kau kena, ayo bayar” kata Gandol
“Bonuslah”
jawabku dengan santai
“Apaan
itu bonus, kalau begini caranya kapan aku menang” sahut Gandol
“Bonuslah
kawan punyaku cuma sedikit” aku mejelaskan sambil merayu Gandol
“Kamu
bawa kelereng berapa?” tanya Gandol
“5
butir” dengan enteng aku menjawab
“Apaan
itu 5 butir, dasar Cumpon” kata Gandol kepadaku
Aku
hanya tersenyum malu, tapi Gandol terus mengataiku.
“Cumpon,
Cumpon, jangan main dengan Nur dia cuma bawa kelereng sedikit, dasar Cumpon” Teriak Gandol ke teman - teman.
Dari
situlah julukan itu melekat dalam tubuh ini. Nama yang unik, bagiku itu sebutan
yang menarik, gelar yang indah diberikan Gandol kepadaku. Keunikan nama – nama yang kami sandang ini tidak membuat kami untuk saling mencaci
atau saling bermusuhan satu sama lain tapi justru membuat kami saling akrab
satu sama lain. Gelar – gelar konyol yang melekat dalam diri kami ini adalah
simbol persahabatan kami.
0 comments:
Post a Comment